Bos Mandiri Promosikan Perbankan RI ke Ratusan Investor Asing
(Antara/Wahyu Putro A)
Berdasarkan pengalaman menghadapi krisis beberapa tahun lalu itu, lanjut dia, regulasi dan koordinasi antara pemerintah dan para lembaga keuangan terus meningkat.
Budi menuturkan, apa yang dialami Indonesia saat ini menjadi bukti kuatnya kondisi ekonomi Indonesia yang masih mencatatkan pertumbuhan tertinggi kedua, di antara anggota G20 setelah China.
"Kondisi ekonomi tahun ini jauh berbeda dengan krisis yang terjadi pada 1998 atau 2008. Pada 2008, nilai tukar rupiah mencapai Rp 12.500 per dolar AS dan pada 1998 jauh lebih tinggi dari itu sekitar Rp 16 ribu- Rp 17 ribu per dolar AS. Apa sekarang akan seperti itu, saya pikir tidak," paparnya.
Selain itu, dilihat dari suku bunga acuan pada tahun ini, Indonesia juga lebih baik. Pada 1998, suku bunga acuan mencapai 56,4%, sedangkan 2008 tercatat 8,7%.
"Pada 2008, tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan itu 3,32%, sekarang kita bandingkan dengan pada 2008 dan akhirnya pada 2013 sekarang NPL semakin survive dengan bertahan di bawah 1%," tegas Budi.
Selain itu, Budi menambahkan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang mencari titik keseimbangan baru. Kondisi tersebut, menurut dia, harus diterima semua pihak dan itu tidak perlu dikhawatirkan oleh para investor.
"Untuk itu jangan khawatir dengan Indonesia, dengan pasar sebesar ini masih akan menjanjikan bagi para investor, Bank Mandiri siap memfasilitasi itu," ungkap Budi. (Yas/Ndw)
www.liputan6.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar