Investasi merupakan
komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lain yang dilakukan saat ini
dengan tujuan agar dapat memperoleh keuntungan di masa mendatang atau bertujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan investor (kesejahteraan moneter) (Kasmir,
2001). Sedangkan menurut Sharpe, Alexander, dan Bailey (1997), investasi dalam
arti luas adalah mengorbankan dolar sekarang untuk dolar pada masa depan,
dengan dua atribut berbeda yang melekat yaitu risiko dan waktu.
Ahmad (2004) memberikan
pengertian investasi yaitu sebagai berikut :
a. Suatu
tindakan membeli barang-barang modal.
b. Pemanfaatan
dana yang tersedia untuk produksi dengan pendapatan dimasa yang akan datang.
c. Suatu
tindakan untuk membeli saham, obligasi atau surat penyertaan lainnya.
Halim (2003 : 2), investasi
merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk
memperoleh keuntungan di masa mendatang. Macam-macam bentuk investasi adalah
sebagai berikut :
1. Investasi
langsung (direct investment) adalah investasi pada asset riil (Real
Assets) misalnya : pembelian asset produktif, pendirian pabrik, pembukaan
pertambangan / perkebunan, dan lain-lain.
2. Investasi tidak langsung (indirect investment)
atau investasi portofolio adalah investasi pada asset finansial (financial
assets):
a. Investasi di
pasar uang : deposito, sertifikat BI.
b. Investasi di pasar modal : saham, obligasi, opsi,
warrant.
Sumber-sumber dana untuk
investasi ini berasal dari :
1. Asset yang dimiliki saat ini
2. Pinjaman dari pihak lain
3. Tabungan.
Adapun dasar keputusan
seseorang melakukan investasi berdasarkan atas (Husnan, 2003 : 50):
1. Return
merupakan tingkat keuntungan investasi yang terdiri dari ;
a. expected return (return yang diharapkan) yaitu return yang
diharapkan akan didapat oleh investor di masa depan.
b. realized return (return aktual) yaitu return yang
sesungguhnya terjadi / didapatkan oleh investor.
2. Risiko merupakan kemungkinan return aktual berbeda
dengan return yang diharapkan yang terdiri dari ;
a. risiko sistematis (systematic risk) atau
risiko pasar (general risk) yaitu risiko yang tidak dapat dihilangkan
dengan melakukan diversifikasi, berkaitan dengan faktor makro ekonomi yang
mempengaruhi pasar (misal : tingkat bunga, kurs, inflasi dan kebijakan
pemerintah).
b. risiko tidak sistematis (unsystematic risk)
atau risiko perusahaan (risiko spesifik) yaitu risiko yang dapat dihilangkan
dengan melakukan diversifikasi, karena hanya ada dalam satu perusahaan /
industri tertentu.
Menurut Husnan (2003 : 47), salah satu
karakteristik investasi pada pasar modal adalah kemudahan untuk membentuk
investasi portofolio. Artinya pemodal dapat dengan mudah menyebar (melakukan
diversifikasi) investasinya pada berbagai kesempatan investasi. Oleh karena itu
maka adapun langkah-langkah dalam melakukan investasi portofolio adalah sebagai
berikut (Husnan, 2003 : 454) :
1. Menentukan kebijakan investasi
Pada tahap awal
pengambilan keputusan, investor perlu menetapkan tujuannya berinvestasi dan
menentukan besarnya investasi yang akan ditanam. Mengingat adanya korelasi
antara risiko dan keuntungan (return) yang diperoleh, maka investor
tidak dapat mengatakan bahwa tujuan investasinya adalah mencari keuntungan yang
sebesar-besarnya karena akan ada kerugian yang harus dihadapinya. Jadi, tujuan
investasi harus dinyatakan, baik dalam keuntungan maupun risiko.
2. Analisis Sekuritas
Pada tahap
ini akan diadakan analisis terhadap individual (sekelompok) sekuritas. Ada dua filosofi dalam melakukan analisis
sekuritas, yaitu sebagai berikut.
a. Pendapat pertama menyatakan bahwa sekuritas mispriced (harganya
salah, mungkin terlalu tinggi, mungkin terlalu rendah) Dengan analisis ini akan
dapat dideteksi sekuritas-sekuritas tersebut. Ada berbagai cara untuk
melakukan analisis ini. Cara tersebut dikelompokkan menjadi dua, yaitu analisis
teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data
(perubahan) harga pada masa yang lalu sebagai upaya memperkirakan harga
sekuritas di masa yang akan datang dengan melihat nilai transaksi yang terjadi.
Sedangkan analisis fundamental didasarkan pada informasi-informasi yang
diterbitkan oleh emiten maupun oleh administratur bursa efek.
b. Pendapat
kedua menyatakan bahwa pasar modal adalah efisien. Dengan demikian, peralihan
sekuritas tidak didasarkan atas frekuensi risiko para pemodal (pemodal yang
bersedia menanggung risiko tinggi akan memilih sekuritas yang berisiko tinggi),
pola kebutuhan kas, dan sebagainya. Jadi, menurut pendapat ini keuntungan yang
diperoleh pemodal sesuai dengan risiko yang ditanggung.
3. Pembentukan
Portofolio
Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas mana saja yang akan dipilih untuk
membentuk portofolio dan berapa proporsi dana yang akan ditanam pada tiap-tiap
sekuritas tersebut. Adanya
pemilihan sekuritas ini (dengan kata lain pemodal melakukan diversifikasi)
dimaksudkan untuk meminimalkan risiko yang ditanggung. Pemilihan
sekuritas ini akan dipengaruhi oleh preferensi risiko, pola kebutuhan kas, dan
status pajak.
4. Melakukan Revisi Portofolio
Tahap ini merupakan pengurangan terhadap ketiga tahap sebelumnya dengan
maksud jika diperlukan akan diadakan perubahan terhadap portofolio yang telah
dimiliki. Jika portofolio yang dimiliki sekarang dirasakan tidak lagi optimal
atau tidak sesuai dengan prefensi risiko pemodal, maka pemodal dapat melakukan
perubahan terhadap sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio tersebut.
5. Evaluasi Kinerja Portofolio
Dalam tahap ini pemodal mengadakan penilaian terhadap kinerja
portofolionya, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun risiko
yang ditanggung. Tidak benar bahwa suatu portofolio yang memberikan keuntungan
yang lebih tinggi mesti lebih baik daripada portofolio lainnya karena adanya
faktor risiko yang perlu dimasukkan juga.
Rahardja dan Manurung ( 2008 :
278), adapun faktor-faktor yang mempengaruhi investasi langsung dan portofolio
adalah sebagai berikut :
1. Tingkat pengembalian yang diharapkan (Expected
Rate Of Return)
Kemampuan perusahaan menentukan tingkat investasi yang diharapkan,
sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal perusahaan.
a. Kondisi internal perusahaan
Kondisi internal adalah
faktor-faktor yang berada di bawah kontrol perusahaan, misalnya tingkat
efisiensi, kualitas SDM, dan teknologi yang digunakan. Ketiga aspek tersebut
berhubungan positif dengan tingkat pengembalian yang diharapkan. Artinya,
semakin tinggi tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi, maka semakin
tinggi pula tingkat pengembalian yang diharapkan.
b. Kondisi
eksternal perusahaan
Kondisi eksternal yang perlu
dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi terutama adalah
perkiraan tentang tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi domestik maupun
internasional serta tingkat inflasi yang terjadi. Jika perkiraan tentang masa
depan ekonomi nasional maupun dunia bernada optimis, biasanya tingkat investasi
meningkat, karena tingkat pengembalian investasi dapat dinaikkan.
Selain perkiraan kondisi
ekonomi, kebijakan yang ditempuh pemerintah juga dapat menentukan tingkat
investasi. Kebijakan menaikkan pajak, misalnya diperkirakan akan menurunkan
tingkat permintaan akan agregat. Akibatnya tingkat investasi
akan menurun. Faktor sosial politik juga menentukan gairah investasi, karena
jika sosial politik stabil maka pada umumnya juga meningkat. Demikian pula
faktor keamanan (kondisi keamanan negara).
2. Ramalan
mengenai keadaan di masa yang akan datang
Ramalan yang menunjukkan bahwa
keadaan perekonomian akan menjadi lebih baik lagi pada masa depan, yaitu
diramalkan bahwa harga-harga akan tetap stabil (tingkat inflasi stabil)
dan pertumbuhan ekonomi maupun pertambahan pendapatan masyarakat akan
berkembang dengan lebih cepat, merupakan keadaan yang akan mendorong pertumbuhan
investasi. Jika terjadi inflasi maka akan menurunkan investasi portofolio yang
akan ditanam oleh para investor, sehingga kondisi ini akan mempengaruhi
menurunnya harga sekuritas di pasar modal sehingga menyebabkan investor lebih
suka menanamkan uangnya dalam bentuk investasi yang lain, misalnya dengan
menyimpan uangnya di bank atau tabungan daripada menginvestasikannya dalam
bentuk saham, obligasi maupun sekuritas lainnya. Hal ini akan mendorong mereka
untuk melepas sekuritas yang mereka miliki, sehingga sekuritas yang dilepas
akan meningkatkan jumlah yang ditawarkan di pasar modal, dan selanjutnya akan
menekan harga. Jadi, semakin baik keadaan masa depan maka semakin besar tingkat
keuntungan yang akan diperoleh para pengusaha. Oleh sebab itu mereka akan lebih
terdorong untuk melaksanakan investasi yang telah atau sedang dirumuskan dan
direncanakan.
3. Tingkat
bunga
Tingkat bunga menentukan
jenis-jenis investasi yang akan memberi keuntungan kepada para pengusaha dan
dapat dilaksanakan. Para pengusaha hanya akan melaksanakan keinginan untuk
menanamkan modal apabila tingkat pengembalian modal dari penanaman modalnya
itu, yaitu persentase keuntungan neto (tetapi sebelum dikurangi bunga uang yang
dibayar) modal yang diperoleh, lebih besar dari tingkat bunga.
4. Biaya
investasi
Yang paling menentukan tingkat
biaya investasi adalah tingkat bunga pinjaman, karena semakin tinggi tingkat
bunganya maka biaya investasi semakin mahal. Akibatnya minat berinvestasi
semakin menurun.
Faktor lembaga juga mempengaruhi
biaya investasi karena prosedur izin yang berbelit-belit dan lama (> 3
tahun), menyebabkan biaya ekonomi dengan memperhitungkan nilai waktu uang dari
investasi semakin mahal. Demikian halnya dengan keberadaan dan efisiensi
lembaga keuangan, tingkat kepastian hukum, stabilitas politik, dan keadaan
keamanan.
5. Tingkat
pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya
Hubungan antara pendapatan
nasional dan investasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang cukup erat di
antara tingkat investasi dan tingkat pendapatan nasional. Investasi akan
meningkat apabila pendapatan nasional semakin meningkat dan begitu juga
sebaliknya.
Investasi Portofolio dapat
diartikan sebagai tindakan membagi modal yang tersedia pada jenis-jenis
investasi tertentu agar diperoleh risiko yang paling minimal. Keputusan pengalokasian modal ke dalam
usulan-usulan investasi yang manfaatnya akan direalisasikan dimasa yang akan
datang harus dipertimbangkan dengan cermat. Dan investasi portofolio meliputi
investasi pada asset berupa saham dan utang jangka panjang yang dipengaruhi
oleh kondisi perekonomian, tingkat inflasi dan iklim politik di suatu negara.
Sukirno (2005 : 381), Penanaman modal portofolio
merupakan penanaman modal dalam bentuk pemilikan surat-surat pinjaman jangka panjang
dan saham-saham dari perusahaan-perusahaan yang terdapat di negara-negara
berkembang, jadi hanyalah berupa penyertaan dalam pemilikan perusahaan dan
bukan penguasaan kegiatan perusahaan sehari-hari. Dengan kata lain
investasi portofolio (Portofolio Investment ) merupakan pembelian
saham dan obligasi yang semata-mata tujuannya untuk mendapatkan hasil dari dana
yang diinvestasikan oleh para investor melalui pasar modal. Sukirno (2006 :
231), investasi portofolio adalah investasi dalam bentuk membeli harta keuangan
seperti bond, saham perusahaan dan obligasi pemerintah. Adapun didalam neraca
pembayaran investasi portofolio meliputi investasi asing dalam harta keuangan.
Jadi dapat dikatakan bahwa,
Investasi Portofolio merupakan investasi pada sektor finansial yang tergolong
paling high risk-high return investment. Artinya, peluang untuk memperoleh
keuntungan sangat besar bahkan dapat mencapai ratusan persen perbulan namun
diimbangi juga dengan kemungkinan kerugian yang besar apabila tidak dikelola
dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar